Benarkah Pikiran Kita Lebih Mudah Terjebak Dalam Kondisi Negatif Ketimbang Kondisi Positif?

By // No comments:
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari kerap kali kita harus menghadapi berbagai tantangan. Tak jarang tantangan-tantangan yang ada itu bisa membuat kita terjebak dalam sembilu negatifitas. Sampai-sampai bikin stress yang tak berkesudahan.

Dulu ketika pertama kali membaca buku-buku motivasi dan inspirasi tentang kesuksesan, dengan seketika semangat dan mentalitas positif seperti tertular ke dalam diri saya. Saya menjadi begitu positif menjalani kehidupan.

Tapi ketika kegagalan dan kebangkrutan datang memporak-porandakan kehidupan, saya pun menjadi sedih dan terjebak dalam perasaan negatif. Tidak berdaya dan frustasi. Namun dalam hati saya selalu membatin, "Ah... semua ini pasti akan berlalu."

Ternyata hingga masalah inipun berlalu, pikiran saya seperti terjebak dalam kondisi berpikir negatif. Entah mengapa sangat sulit bagi pikiran saya untuk bisa berpikir positif, semangat dan antusiasme seperti dulu lagi? Apa yang terjadi? Mengapa kondisi negatif sepertinya lebih mudah mempengaruhi pikiran saya daripada keadaan yang positif?
Benarkah Pikiran Kita Lebih Mudah Terjebak Dalam Kondisi Negatif Ketimbang Kondisi Positif?
img from: www.sciencedaily.com

Hal ini membuat saya bertanya-tanya benarkah demikian? Benarkah pikiran kita lebih mudah terjebak dalam kondisi negatif daripada kondisi positif?

Teka-teki itulah yang akan coba kita kupas habis pada tulisan renyah di sejuknya kamis sore ini. Semoga sedikit banyak kita bisa mengambil pelajaran pun inspirasi darinya.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Alison Ledgerwood untuk mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut. Alison Ledgerwood adalah seorang Psikolog Sosial. Yang berarti bahwa ia adalah seorang pengamat manusia. Latar belakang hingga akhirnya ia melakukan penelitian tersebut juga karena apa yang terjadi dalam karirnya sebagai seorang psikolog.

Sebagai seorang psikolog ia banyak membuat paper-paper hasil penelitian. Ketika paper-paper tulisannya diterima, ia menjadi bahagia. Dan setelah itu kembali normal menjelang makan siang. Suatu hari ketika papernya ditolak, ia menjadi begitu sedih. Tapi berbeda dengan perasaan positif ketika papernya di terima, perasaan negatif ini bertahan jauh lebih lama lagi. Perasan sedih itu menggelayuti bahkan sampai berhari-hari.

Bahkan ketika papernya yang lain diterima, perasaan positif itu tidak kunjung bergerak naik.



Maka diadakanlah penelitian untuk mencari tahu hal tersebut. Benarkah orang lebih mudah menjadi negatif daripada menjadi positif?

Bersama dengan rekan-rekannya, ia mengumpulkan beberapa responden untuk diuji. Responden dibagi ke dalam dua grup. Dan masing-masing grup dijelaskan sesuatu yang sama yakni tentang sebuah alat medis yang baru. Tapi dengan cara penyampaian yang berbeda.

Grup pertama dijelaskan bahwa alat medis ini memiliki tingkat kesuksesan terhadap kesembuhan pasien sebesar 70%. Sementara responden di grup kedua dijelaskan bahwa alat medis baru ini memiliki tingkat kegagalan sebesar 30%. Dan ternyata hasilnya orang-orang di grup pertama menyukai alat medis baru ini. Sementara orang-orang di grup kedua tidak menyukainya.
Tapi kemudian pernyataannya dibalik. Grup pertama dijelaskan lagi bahwa dengan 70% kesuksesan artinya ada tingkat kegagalan sebesar 30%. Maka dengan serta merta mereka menjadi tidak suka dengan alat baru ini.

Pada grup kedua juga dijelaskan hal yang sama. 30% kegagalan berarti ada tingkat kesuksesan sebesar 70%. Dan berbeda dengan responden di grup pertama, orang-orang di grup kedua tidak berubah sama sekali. Mereka tetap tidak menyukai peralatan medis baru ini.


Eksperimen kedua kemudian dilakukan kembali. Dengan pola yang persis sama dengan eksperimen pertama. Responden dibagi ke dalam 2 grup dan dijelaskan tentang suatu hal yang sama tapi dengan cara yang berbeda. Kini responden diberitahu mengenai kinerja pemerintah dalam menangani pengangguran.

Pada grup pertama orang diberitahu bahwa tahun ini pemerintah berhasil menyediakan lapangan pekerjaan dan berhasil menurunkan tingkat pengangguran sebesar 40%. Dan orang-orang menyukainya. Mereka berpikir pemerintah telah berhasil.

Di grup kedua, disampaikan bahwa tahun ini masih ada 60% pengangguran yang belum dipekerjakan. Dan orang-orang menjadi tidak suka dengan pemerintah.

Pernyataannya kemudian kembali dibalik. Di grup pertama disampaikan bahwa masih ada 60% pengangguran yang belum dipekerjakan. Dan orang-orang lagi-lagi menjadi tidak suka. Di grup kedua, juga disampaikan bahwa setidaknya pemerintah berhasil mengurangi tingkat pengangguran sebesar 40%. Tapi tidak ada bedanya dengan percobaan pertama, orang-orang pun tetap tidak suka dengan pemerintah.

Dari dua hasil eksperimen ini menunjukkan bahwa nampaknya memang benar pikiran kita lebih mudah terjebak dalam situasi negatif ketimbang situasi positif. Orang-orang lebih mudah memandang gelas sebagai setengah kosong, daripada memandangnya sebagai setengah penuh.

Maka dilakukanlah eksperimen ketiga. Kali ini, eksperimen itu ditujukan untuk mencari tahu seberapa mudah orang merubah pikiran dari negatif ke positif dan begitupun sebaliknya. Kembali responden dibagi ke dalam dua grup. Dan diberitahu mengenai tingkat kesuksesan sebuah operasi penyakit kanker.

Grup pertama diberi pertanyaan sederhana. Jika 600 orang penderita kanker, dan 100 orang dapat diselamatkan nyawanya melalui operasi, maka berapa orang yang akan meninggal? Artinya orang-orang ini akan berpikir dari kondisi positif ke kondisi negatif. Dari yang diselamatkan ke yang meninggal.

Di grup kedua pertanyaanya dibalik, jika dari 600 orang itu meninggal 100 orang. Maka berapa orang yang akan berhasil diselamatkan? Artinya disini, orang berpikir dari kondisi negatif ke positif. Dari orang yang meninggal kepada orang yang diselamatkan.

Jawaban kedua pertanyaan itu sama. Yakni 600 - 100 = 500. Tapi ternyata waktu yang dibutuhkan oleh kedua grup berbeda.



Orang-orang di grup pertama, yang berpikir dari kondisi positif ke kondisi negatif, butuh waktu sekitar 7 detik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sementara orang di grup kedua, yang bergerak dari kondisi negatif menjadi positif, butuh waktu sekitar 11 detik.

Ini menunjukkan bahwa begitu kita memikirkan sesuatu sebagai kondisi negatif, cara berpikir semacam itu akan merasuk di benak kita dalam waktu yang lama. Sampai kita berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya.” Kata Alison.

Sementara itu, berikut grafik pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kepercayaan konsumen dari tahun 2007 sampai tahun 2010.




Ketika pertumbuhan ekonomi terjun bebas ke bawah, kepercayaan konsumen pun menurun drastis. Tapi ketika kondisi ekonomi sudah kembali pulih, kepercayaan konsumen tidak kunjung memantul ke atas mengikuti grafiknya. Justru kepercayaan konsumen seperti terjebak di level yang rendah.

Semua ini sekali lagi bukti bahwa pikiran kita lebih mudah menangkap kondisi negatif ketimbang kondisi positif. Sangat mudah untuk beralih dari kondisi positif ke kondisi negatif. Tapi untuk bisa bangkit dari kondisi negatif ke kondisi positif, dibutuhkan tenaga dan usaha yang tidak sedikit. Kita harus bersaha lebih kuat agar bisa melihat sesuatu dengan cara yang positif.

Namun meski begitu, bukan mustahil untuk menjadi orang yang berpikir positif. Kita bisa melatih pikiran kita untuk terbiasa melihat gelas sebagai setengah penuh. Bukan setengah kosong.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk itu. Salah satunya yang paling efektif, menurut para pakar adalah dengan bersyukur. Sebuah penelitian lain menunjukkan bahwa hanya dengan menulis hal-hal positif yang terjadi dalam hidup kita setiap harinya, bisa secara dramatis mempengaruhi pola pikir kita menjadi pola pikir positif.

Baca juga:
Bersyukur adalah emosi manusia yang paling sehat.” Demikian kata motivator ternama Zig Ziglar. Orang-orang yang punya kebiasaan bersyukur dipagi hari, menurut hasil riset, cenderung lebih kuat dan tangguh dalam menjalani tantangan demi tantangan kehidupan.

Demikian tulisan renyah dan bergizi pada kamis sore ini. Mudah-mudahan bisa menyuntikkan wawasan sekaligus semangat baru ke dalam diri pembaca sekalian. Bahwa kita senantiasa menggodok kebiasaan bersyukur dan berpikir positif dalam hidup ini. Sehingga kita semua bisa hidup dengan lebih positif, sehat dan powerful.

Berpikir positif dalam hidup memang sulit. Tapi lebih sulit hidup tanpa berpikir positf. Jangan lupa masukkan email anda di kolom berlangganan di samping, agar memastikan anda tidak ketinggalan artikel bergizi selanjutnya

Mengasah Kecerdasan Emosional EQ (Part II): 4 Sumber Emosi Negatif Dan Cara Menghilangkannya

By // No comments:
Emosi negatif adalah sumber dari segala sumber masalah yang terjadi dalam hidup kita. Kemampuan untuk mengelola emosi negatif inilah yang disebut dengan kecerdasan emosional (EQ). Dan inilah yang akan menentukan kualitas kehidupan kita. Sebagaimana yang telah kita bahas pada bagian terdahulu bahwa kecerdasan emosional (EQ) jauh lebih berperan dalam hidup seseorang ketimbang kecerdasan intelektualnya (IQ).

Kabar buruknya lagi bahwa emosi negatif menguras cadangan energi kita dengan tanpa perhitungan. Contoh sederhananya, hasil studi membuktikan bahwa orang-orang kota yang setiap harinya harus bergumul dengan kemacetan jauh lebih rentan terkena stress daripada mereka yang tinggal di desa. Penyebabnya sederhanya: emosi negatif yang muncul ketika kemacetan, seperti marah-marah dan mengeluh menguras cadangan energi seseorang. Itulah mengapa mengeluh itu buruk untuk kesehatan.

Emosi Negatif
Img: richertransformations.ca
Sebaliknya kemampuan membentengi diri dengan emosi positif, seperti cinta, semangat, antusiasme dan lain sebagainya akan sangat berdampak sehat pada diri sendiri. Hasil studi demi studi pun membuktikan bahwa orang-orang optimis, berpikir positif, ceria mengalami peningkatan dalam karirnya jauh meninggalkan rekan mereka yang “tukang ngeluh” atau yang suka marah-marah.

Salah satunya riset yang unik adalah hasil penelitian Dr. Martin Selignman yang menguak fakta bahwa orang-orang optimis cenderung tidak teliti. Orang-orang pesimis sangat teliti. Ini tentu menarik. Kenapa bisa demikian. Ternyata penyebabnya adalah bahwa orang-orang optimis tidak takut melakukan kesalahan. Mereka selalu berpikir, “Ah… nanti bisa diperbaiki lagi.” Atau “Saya akan melakukannya lain kali dengan lebih baik lagi.” Sebaliknya orang-orang pesimis alergi dengan kesalahan. Mereka selalu ingin melakukan segala sesuatunya sempurna di awal. Karena itu mereka begitu akurat dan teliti dalam bekerja.

Tahukah anda hasilnya seperti apa? Orang-orang optimis bertindak lebih banyak, lebih sering, daripada para pesimis.Karena itu peluang menuju kesuksesan terbuka lebih lebar bagi mereka.

Hal itu juga terjadi dalam hidup saya. Dalam hal blogging misalnya, dulu saya tidak pernah takut melakukan kesalahan. Blogging berjalan saja dengan apa adanya dan menyenangkan. Namun ketika sembilu kegagalan datang, dan untuk sekian lama saya terjebak dalam emosi negatif. Entah mengapa saya menemukan diri saya menjadi demikian teliti dalam bekerja. Saya alergi dengan kesalahan. Saya selalu ingin sempurna dalam segala sesuatunya. Saya menjadi begitu peduli dengan hal-hal detail. Tapi pertanyaannya, kok semakin saya detail dan menghindari kesalahan, saya semakin sulit melangkah maju? Seperti ada benteng besar yang menghalangi kreatifitas saya? Ternyata penyakit perfeksionis telah menghinggapi spirit saya.

Baca juga: Ingin Lebih Bahagia Dalam 3 Menit, Ini Caranya!

Sebaliknya saya punya seorang teman. Yang bagi saya ia cukupmenyebalkan, sebab ia kelihatannya terlalu jago dalam merancang hal-hal besar. Tapi minim dalam hal detail. Ia sama sekali tidak peduli apa kata orang terhadapnya, ia tidak peduli untuk mengoper gigi motornya ketika tanjakan (semuanya paka gigi 4), ia tidak peduli untuk membereskan meja kerjanya. Bagi saya, yang waktu itu masih terjangkit penyakit perfeksionis, orang ini benar-benar kacau balau, ceroboh, tidak teliti dan lain sebagainya.

Tapi, bagi Ia pribadi, kehidupan nampaknya begitu asyik dan menyenangkan. Ia bebas berteman dan berkenalan dengan siapa saja, ia melakukan banyak hal dalam hidupnya. Dan anehnya, nampaknya selalu terjadi peningkatan yang signifikan dalam hidupnya. Sampai hari ini teman sayaitu masih begitu. Tapi karirnya sudah sangat mapan, ia bekerja di salah satu BUMN ternama, ia punya istri yang cantik dan sholehah, di samping itu ia menjalankan banyak bisnis.

Semua cerita ini nampaknya berujung pada satu hal. Bahwa kecerdasan emosional (EQ), kemampuan mengelola emosi, kemampuan berpikir besar, kemampuan bersosialisasi, nggak pake malu dan gengsi, jauh lebih penting dalam kehidupan daripada sekedar kecerdasan intelektual (IQ), ketelitian terhadap hal-hal detail, ketakutan melakukan kesalahan, dan pesimisme.

Nah, pada tulisan renyah kali ini kita akan coba mengulas tentang 4 sumber emosi negatif. Dan bagaimana sebuah langkah sederhana bisa mengusirnya jauh-jauh dari kehidupan kita. Semoga dengan menerapkan solusi dalam tulisan ini, kita bisa menjadi orang yang lebih positif dan optimistis dalam menjalani kehidupan yang penuh gejolak ini. Tsaahh…

Jika anda sudah siap, langsung saja ini dia poin-poinnya…

1. Justifikasi atau pembenaran.

Emosi negatif berakar dari sifat membenarkan segala macam hal yang membuat diri berpikir negatif. Ketika masalah muncul, kita menjadi sedih, marah dan kecewa. Ini wajar sebagai respon manusiawi. Tapi ketika kita telah memilih untuk terus menerus bersikap demikian, kemudian kita membenarkan tindakan kita tersebut. Maka di sanalah emosi negatif itu tumbuh bersemi. Membenarkan emosi negatif berarti Kita akan memberikan sejuta penjelasan mengapa kita wajar dan harus marah, benci dan merasa inferior.

Misalnya, ketika ibu saya sering sakit-sakitan. Sebagai anak saya mencoba menasehati. “Bu… jangan terlalu banyak pikiran. Serahkan saja semuanya sama Tuhan. Ibu harus banyak istirahat.

Tidak bisa!” Katanya “Seorang ibu memang akan selalu seperti itu. Ia akan terus menerus mikirin anaknya.

Nah, saya paham kekhawatiran ibu saya mikirin anaknya. Tapi biar bagaimanapun itu memunculkan emosi negatif dalam dirinya. Dan akhirnya jadi jatuh sakit. Tapi beliau selalu saja membenarkan emosi negatifnya. Bahwa memang seperti itulah seorang ibu. Akan sulit bagi saya untuk menasehatinya, walau dengan kata-kata bagaimanapun. Selama ia meyakini bahwa emosi negatifnya adalah benar.

Begitulah emosi negatif terus-menerus bersarang menggelayuti diri kita dengan justifikasi atau pembenaran. Jika saja kita tidak membenarkan mengapa kita harus marah, tentu kita tidak akan marah. Maka berhenti menjustifikasi emosi negatif kita. Terimalah keadaan yang buruk itu, dan pelajari hikmahnya.

2. Rasionalisasi atau Membuat Dalih.

Faktor emosi negatif yang kedua adalah mencoba merasionalkan emosi negatif itu. Apa-apa berdalih. Dikit-dikit bikin alasan. Kenapa kok tidak kerjakan tugas? Hujan sih, mati lampu sih, ini sih itu sih. Ia akan memberikan alasan mengapa emosi negatif-nya masuk akal. Rasionalisasi dan justifikasi akan selalu membuat orang lain atau sesuatu hal sebagai penyebab dari segala emosi negatif yang muncul dalam dirinya. Sadar atau tidak pada saat kita berdalih semacam itu, kita sedang mengundang datangnya hal-hal negatif dalam hidup kita.

Misalnya seorang yang dipecat dari pekerjaannya, ia akan menjelaskan segala hal bahwa pemecatannya adalah kesalahan. Ia menjelaskan bahwa bossnya memang orang yang tidak kompeten. Sistem di perusahaannya tidak valid. Dan banyak lagi. Semuanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar dan emosi negatifnya wajar. Padahal jelas-jelas pembenaran tersebut tidak berguna. Mungkin memang benar demikian, tapi tetap saja tidak ada gunanya

3. Mendewakan Pendapat Orang Lain.

Sumber emosi negatif selanjutnya adalah adanya hypersensitive berupa mendewakan pendapat orang lain tentang diri kita. Jadi emosinya tergantung pada apa kata orang lain terhadapnya. Jika orang lain menghina, mengejek, atau menertawakannya ia akan memikirkan hal tersebut dan membiarkan emosi negatifnya tumbuh.

Sayangnya hal semacam ini akan sangat menyakitkan. Kita tidak benar-benar menjalani hidup, jika saja kita terus menerus memikirkan apa kata orang tentang kita. Hal ini jugalah yang sedikit banyak menimbulkan sikap perfeksionis yang mengganggu itu.

4. Blaming atau Menyalahkan.

Inilah batang pohon segala emosi negatif. Yakni sikap menyalahkan. Menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan, keluarga, keturunan. Pokoknya apa saja dan siapa saja diluar dirinya yang membuat kita menjadi negatif seperti ini. Tidak adanya tanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Tidak mau menerima kenyataan atas kesalahan yang dibuatnya.

Potong batang emosi negatif anda, dan semua ranting-ranting, buah, dan daunnya akan hilang dari diri anda.

Baca Juga: 6 Cara Mengoptimalkan Fungsi Otak Untuk Meraih kesuksesan!

Bagaimana Mengatasi Semua Emosi Negatif Itu?

Bagaimana Mengatasi emosi negatif
img:
certificateinpositivepsychology.com
Satu dan satu-satunya cara untuk mengatasi emosi negatif itu adalah mengambil alih diri anda. Bertanggung-jawab penuh dengan apa yang ada dalam hidup anda. Menerima segala sesuatu sebagai akibat dari sikap dan tindakan kita sendiri. Kemudian dengan sikap positif kita mencari solusi dari masalah itu sendiri.

Ingat, bahwa masalah itu tidak serumit kelihatannya. Yang membuat sebuah masalah itu rumit adalah emosi kita sendiri.

Sebuah masalah yang sama jika dihadapi dengan sikap yang berbeda toh pada akhirnya akan menghasilkan hasil-hasil yang berbeda.

Sikap kitalah yang menentukan. Apa yang mendatangi kita sepenuhnya diluar kendali kita. We have nothing to do with it. Tapi sikap kita terhadap apa yang terjadi itulah yang menentukan. Dan itu sepenuhnya ada di dalam kontrol kita.

Jika kita bertanggung jawab penuh. Kita katakan, “Aku bertanggung jawab dengan hidupku.” Seketika itu pula kita memotong semua emosi negatif dalam diri kita. Dan kita menjadi orang yang lebih positif.

Sekian, semoga bermanfaat. :) Jangan lupa subscribe untuk memastikan artikel selanjutnya terkirim ke email anda.