Showing posts with label Psikologi Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Motivasi. Show all posts

Untukmu Yang Ingin Sukses Dalam Karir: Inilah 5 Powerful Attitude Yang Dimiliki Seorang Profesional Sejati

By // No comments:
Yes, sukses dalam karir adalah dambaan setiap orang. Termasuk saya dan anda kan? Dan kita semua memang punya potensi untuk sampai ke sana. Untuk sampai di puncak karir yang kita impikan itu.

Tapi sebelum kita bisa sampai di sana, tentu ada syarat dan ketentuan yang berlaku di sini. Dan menurut saya, sarat yang paling utama dan pertama untuk sukses dalam karir atau di bidang manapun sebenarnya adalah: Attitude!

Ya, tentu hal-hal terkait skill, knowledge, hard work atau keterampilan tekhnis juga menjadi faktor penentu. Tapi tetap saja, semua itu harus ditopang oleh sikap atau attitude yang positif dan powerful.

So, sikap adalah fondasinya. Jadi kalau fondasinya lemah, maka bangunan diatasnya pasti akan goyah. Karir pun menjadi nihil hasilnya.

Sebagai refreshing saja, kita bisa coba analogikan dengan huruf-huruf yang membentuk masing2 kata-kata di atas (skill, knowledge, hard work, dan attitude). Kita coba rangkai huruf-hurufnya, dengan asumsi masing-masing huruf mewakili angka urutannya dalam abjad (mis. a = 1, b = 2, dst) , maka kita bisa dapat hasil seperti berikut ini:

attitude is everything


See? Tidak ada yang bisa bikin hidup kita 100% sukses, selain attitude (sikap). Sementara skill, pengetahuan, bahkan kerja keras sekalipun, belum cukup.

Jadi, KOENTJI-nya disini adalah: ATTITUDE! SIKAP!

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai apa itu sikap di sini. Tapi kalau harus, sederhananya saja, sikap itu cara kita membawakan diri, cara kita bertindak, dan lebih-lebih cara kita merespon terhadap suatu hal/kejadian.

Ingat, "Bukan masalah apa yang terjadi terhadap kita, tapi bagaimana kita merespon apa yang terjadi itu!"

So, pertanyaannya sekarang adalah: Sikap yang seperti apa sih yang bisa bikin kita SUKSES DALAM KARIR?

Sebuah artikel dari CareerBuilder.Com dengan gamblang mengatakan bahwa, sikap yang palig esentsial dalam menentukan kesuksesan karir adalah apa yang disebut dengan "Profesionalisme."

Atau bisa kita bilang, mereka yang bakalan sukses laris manis di dunia karir adalah yang punya jiwa seorang profesional sejati.

Nah, inilah kata kunci yang akan kita kupas pada tulisan kali ini.

Jadi, Apa itu Profesional?

profesional

Kalau menurut Wikipedia: "A professional is a member of a profession or any person who earns their living from a specified professional activity." (Professional adalah anggota dari sebuah profesi atau seseorang yang mendapatkan penghasilan dari aktifitas profesional tertentu).

Jadi kata kuncinya adalah orang yang bekerja/berpenghasilan dari profesi yang spesifik.

Kalau kata guru Bahasa Indonesia saya dulu, profesional adalah "ketika anda bekerja di bidang itu ya anda fokus dan konsisten di situ."

Inilah yang disebut profesional. Asbab di mana kita fokus dan konsisten, maka di sanalah kita mencurahkan segenap jiwa raga kita untuk pekerjaan kita. Di sanalah cinta dan kontribusi kita curahkan seutuhnya. Di sana pulalah kita menjadi diri kita yang sebenarnya. That's profesional.

Nah, sekarang let's get to the point. Attitude seperti apa yang dimiliki oleh seorang profesional sejati??

Menurut saya, setidaknya ada 5 powerful attitude yang dimiliki oleh seorang profesional sejati. Dan attitude inilah yang ia bawa dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Pada akhirnya mengantarkan pada kesuksesan karir yang gemilang.

Apa saja ke-5 powerful attitude tersebut?? Berikut uraiannya untuk anda...

#1. Selalu memulai karir di bidang di mana dia punya power
Ini adalah mindset yang paling dasar. Bahwa jauh hari sebelum bekerja dan berkarir di suatu bidang, seorang profesional sejati sudah tahu bahwa ia punya kemampuan dan kompetensi di mana. Dan inilah yang bikin dia powerful dalam bekerja. Sebab memang ia berangkat dari sesuatu yang dikuasainya.

Jadi seorang profesional tidak pernah sembarang milih pekerjaan. Tidak ada prinsip yang penting ada, yang penting kerja.

Ada pertanyaan besar yang mendasari seorang profesional sejati dalam berkarir. Dan itu adalah, "Di mana saya bisa memberikan kemampuan terbaik saya untuk orang lain?"

#2. Seorang profesional punya visi yang pasti yang ingin ia raih dalam hidupnya.
Anda bisa perhatikan dimanapun, seorang profesional selalu diselimuti oleh aura positif, ambisius, dan penuh gairah dalam bekerja. Dan itu semua karena sebuah visi yang nyata yang diperjuangkannya. Visi itu senantiasa digenggam dalam semangat membara dan hasrat yang berkobar.

Tujuan dan visi yang jelas dalam setiap pekerjaan ini, konon memang adalah faktor penentu dari keberhasilan pekerjaaan seseorang. Begitupun dalam karir. Setiap langkah yang diambil oleh seorang profesional adalah langkah untuk mendekatkan pada tujuan karir tersebut.

#3. Selalu memberi yang terbaik
"Commitment to Excellent," Begitu istilahnya. Sebuah tekad dan komitmen untuk senantiasa memberikan hasil terbaik dari setiap pekerjaan. Seorang profesional sadar betul, bahwa untuk meraih visinya dalam karir, untuk mencapai puncak kesuksesan, ia harus memberikan yang terbaik yang ia bisa.

Untuk mendapatkan hasil ekselen, kita harus menukarkan usaha ekselen.

#4. Dimotivasi oleh pertumbuhan
Seorang profesional bekerja demikian powerful, sebab ia dibakar oleh keinginan untuk bertumbuh, maju dan menjadi lebih baik. Yang ia ingin taklukkan bukanlah orang lain, akan tetapi pencapaiannya sendiri di hari kemarin.

Hari ini, haruslah lebih baik dari hari kemarin. Pekerjaan ini, haruslah lebih sukses daripada pekerjaan kemarin. Prinsipnya, tidak ada yang bisa membuat seorang profesional lebih bahagia daripada melihat dirinya bertumbuh dan menjadi lebih baik.

Ia tidak pernah  Ia tidak pernah puas akan hasil yang biasa-biasa saja. Alih-alih begitu, ia akan terus belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya, agar apa yang ia kerjakan akan selalu menghasilkan kemajuan.

#5. Selalu membangun network dan bersinergi dengan orang lain.
Karena seorang profesional tahu, bahwa ia hanya bisa menjadi yang terbaik di bidangnya, maka ia akan tahu bahwa untuk mencapai kesuksesan karir, dirinya perlu untuk bersinergi dengan orang lain yang juga terbaik di bidangnya.

Jika ia handal di bidang komunikasi, maka ia akan membutuhkan orang lain yang handal di bidang kalkulasi. Begitupun jika ia adalah seorang strategic thinker, maka ia harus bersinergi dengan seorang eksekutor yang handal.

Karena itu, seorang profesional akan terus membangun dan memperluas networknya hingga ke manapun. Kalau Robert Kiyosaki mengatakan, "Orang-orang sukses membangun jaringan, sementara orang-orang biasa mencari pekerjaan." Yes, that's exactly what a profesional did too!

Nah, itulah setidaknya 5 powerful attitude yang digenggam erat oleh seorang profesional sejati. Kalaupun anda ingin merengkuh sukses dalam dunia karir, pastikan anda juga memiliki kelima powerful attitude di atas.

Sekian, artikel kali ini, semoga bermanfaat. #KeepPowerful

-Edward Rhidwan
Your Career Development Coach

Bagaimana Membentuk Kebiasaan Baru Hanya Dalam Waktu 5 Hari Tanpa Ribet

By // No comments:
Kita adalah makhluk kebiasaan. Aristoteles mengatakan, kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Artinya kebiasaan kita-sesuatu yang kita lakukan setiap harinya-akan menentukan seperti apa kualitas kehidupan kita ke depannya.

Permasalahannya, kebiasaan ini bukan sesuatu yang mudah untuk kita ciptakan. Banyak orang yang mengaku ingin membuat kebiasaan baru yang lebih memberdaya, tapi mereka sangat kesulitan melakukannya. 

Belum lagi, kebiasaan buruk yang selama ini membelenggu hidup kita, sangat amat sulit untuk dihapuskan.

Padahal kita tahu, bahwa untuk sukses, maju dan berkehidupan lebih baik, kita butuh kebiasaan-kebiasaan yang positif dan powerful.


Nah, bagaimana sih menciptakan kebiasaan baru yang powerful itu tanpa ribet, tanpa gagal, dan kalau perlu hanya dalam waktu singkat.

Pada postingan kali ini, saya akan menunjukkan sebuah video yang bisa menjawab permasalahan tersebut. Saya sendiri suka dan sedang mempraktekkan tekhnik-tekhnik yang diajarkannya, dan saya rasa ini sangat baik untuk teman-teman juga. 

Tapi sebelumnya, mari kita bedah dulu masalah kebiasaan. Kenapa sih kebiasaan itu sulit sekali kita kendalikan? Lantas mengapa pula kebiasaan itu begitu dahsyat pengaruhnya terhadap kehidupan kita?

Untuk menjawab hal ini kita perlu tahu, dimana sih letaknya kebiasaan itu dalam diri kita? Baru kemudian setelahnya kita bisa mengubah atau menghilangkannya.

Sebagaimana yang kita ketahui, kebiasaan itu letaknya di Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind). 

Nah, pikiran bawah sadar ini tidak bisa kita kendalikan secara langsung, karena itulah kebiasaan sulit kita kontrol. 

Namun meski begitu, tidak berarti tidak bisa kita manage. Ada beberapa cara powerful yang bisa kita lakukan untuk masuk dan mengendalikannya. Salah satunya yang paling sakti adalah, Repetisi (pengulangan).

Pikiran bawah sadar akan merespon sesuatu yang cenderung kita lakukan berulang-ulang. Nah, dengan tekhnik-tekhnik khusus ini pulalah yang akan diungkap di video berikut. Tapi tenang saja, karena tekhnik-tekhnik yang diajarkan cukup mudah dan gampang.

Lantas mengapa sih pikiran bawah sadar ini begitu dahsyatnya? Ternyata banyak pakar mengatakan bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan hidup kita 88% lebih kuat dari pada pikiran sadar itu sendiri. Inilah alasan mengapa Aristoteles mengatakan, bahwa kebiasaan kita menentukan kualitas hidup kita.

Sederhananya prinsipnya begini: Awalnya kita membentuk kebiasaan kita, kemudian lama-lama kebiasaanlah yang membentuk kita.

Oke, kalau anda sudah penasaran bagaimana cara-cara membentuk kebiasaan baru yang lebih powerful hanya dalam waktu 5 hari, langsung saja tonton video berikut sampai habis...

Selamat menonton...




50 Quotes Inspiratif Untuk Melejitkan Motivasi dan Kepercayaan Diri

By // No comments:
Versi update untuk artikel ini bisa di cek di blog edwardrhidwan.id.

Sementara sebahagian orang memiliki kepercayaan diri secara natural, tak sedikit di antara kita yang mengalami masalah krisis kepercayaan diri yang akut.

Masalah kepercayaan diri biasanya terjadi karena banyak faktor. Dalam artikel sebelumnya saya pernah menulis tentang --> 5 penyebab orang tidak percaya diri serta bagaimana mengatasinya.

Artikel di atas boleh anda baca jika memang ingin mengatasi masalah kepercayaan diri anda lebih dalam.

Kepercayaan Diri | img from: www.wisdomhealingcenter.com





















Pada sajian kali ini saya ingin menyuguhkan 101 kata-kata bijak motivasi dari para tokoh-tokoh legenda, yang akan mengingatkan kita akan kekuatan dan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing.

Sehingga dengannya kita bisa lebih percaya diri dalam setiap jengkal kehidupan kita. Quotes-quotes bijak semacam ini akan sangat bermanfaat dalam mendongkrak dan menginjeksi mindset positif ke dalam diri kita. Terutama dalam kondisi yang tidak menentu. Selain karena mudah diingat juga memang biasanya kata-katanya nancep sampai ke sanubari terdalam. hasiiikkk!

So, langsung saja, inilah 101 kata-kata bijak motivasi diri untuk melejitkan kepercayaan diri sendiri;

#1. "Keyakinan yang ada dalam tubuh, pikiran dan semangat kita, yang membuat kita terus mencari petualangan baru." ~Oprah Winfrey

#2. "Keyakinan menciptakan kenyataan." ~William James

#3. "Kepercayaan diri adalah syarat utama sebuah terobosan." ~Samuel Johnson

#4. "Tidak akan ada kegagalan bagi seseorang yang tidak pernah kehilangan kepercayaan dirinya. Dia tetaplah seorang raja." ~Orison Swett Marden

#5. "Tubuh yang indah memang bagus, tapi kepercayaan dirilah yang membuat seseorang itu menjadi seksi." ~Vivica A. Fox

#6. "Anda sama mudanya dengan kepercayaan diri anda. Sama tuanya dengan ketakutan anda. Sama mudanya dengan harapan anda. Sama tuanya dengan keputusasaan anda." ~Samuel Ullmen

#7. "Selalu jadilah dirimu sendiri. Miliki keyakinan kepada dirimu sendiri. Jangan pernah mencoba keluar mencari orang sukses, dan mencoba untuk menduplikasinya." ~Bruce Lee

#8. "Percayalah pada diri sendiri! Percayalah pada kemampuan Anda! Tanpa keyakinan wajar namun yang rendah hati, dalam kekuatan Anda, Anda tidak bisa sukses atau bahagia." ~Norman Vincent Peale

#9. "Rendahnya kepercayaan diri bukanlah kondisi hidup. Kepercayaan diri bisa dipelajari, dilatih, dan dikuasai--seperti halnya skill lainnya. Begitu anda menguasainya, segala sesuatu dalam hidup anda akan menjadi lebih baik." ~Barrie Davenport

#10. "Jadilah pembelajar seumur hidupmu. Semakin banyak Anda belajar, semakin banyak yang Anda dapatkan dan semakin Anda percaya diri." ~Brian Tracy

#11. "Dasar dari kepercayaan diri adalah keunggulan dan penguasaan pekerjaan anda." ~Brian Tracy

#12. "Salah satu kunci kesuksesan adalah kepercayaan diri. Kunci kepercayaan diri adalah persiapan." ~Arthur Ashe

#13. "Kunci untuk mengembangkan kepercayaan diri adalah melakukan hal yang anda takutkan dan mencatatkan kesuksesan atasnya." ~William Jennings Bryan

#14. "Percaya diri adalah persiapan. Segala sesuatu yang lain berada di luar kendali anda." ~Richard Kline

#15. "Tidak ada yang membentuk kepercayaan diri lebih baik daripada pencapaian." ~Thomas Carlyle

#16. "Mereka yang percaya bisa, atau tidak bisa. Keduanya sama-sama benar!" ~Konfusius

#17. "Pikiran yang damai membawa kekuatan dari dalam dan kepercayaan diri." ~Dalai Lama

#18. "Jika anda berpikir bisa, anda benar. Jika anda berpikir tidak bisa, andapun benar. Karena itu mereka yang berpikir tidak bisa sungguh telah membuang kesempatan untuk menjadi bisa." ~Henry Ford

#19. "Jangan tunggu segalanya sempurna. Itu tidak akan pernah terjadi. Akan selalu ada tantangan, hambatan dan keadaan yang kurang sempurna. Terus kenapa? Mulailah sekarang juga. Dengan setiap langkah yang kau bentangkan, kau akan semakin kuat. Semakin terasah. Semakin percaya diri. Dan semakin sukses." ~Mark Victor Hansen

#20. "Keyakinan datang bukan dari selalu melakukan hal benar, namun dari rasa tidak takut melakukan kesalahan. ~Peter T. Mcintyre

 #21. "Jangan tinggal di bawah zona nyaman. Keluarlah dan lakukan sesuatu yang luar biasa." ~Wendy Wasserstein

#22. "Mulailah lakukan sekarang, sesuatu yang selama ini anda ingin menjadinya." ~William James

#23. "Anda tidak akan begitu khawatir dengan apa kata orang tentang anda, jika anda menyadari bahwa mereka sebenarnya jarang melakukan itu." ~Eleanor Roosevelt

#24. "Jangan biarkan siapapun memasukkan sesuatu ke dalam pikiran anda yang bisa melenyapkan kepercayaan diri anda." ~Katori Hall

#25. "Jika kau berpikir kau kalah, kau benar kalah. Jika kau berpikir kau gentar, kau benar gentar. Jika kau ingin menang, tetapi berpikir kau tak bisa, hampir pasti kau takkan menang." ~Napoleon Hill

#26. " Milikilah rasa percaya kepada diri sendiri dan kerahkan semangat cukup besar dibelakang keinginan anda untuk mencapai apa yang Anda cita - citakan." ~David J Schwarzt

#27. "Percayalah pada diri Anda, karena orang lain tak akan bisa mempercayai Anda, jika Anda sendiri meragukan kemampuan Anda." ~Elsa

#28. "Dengan cara yang lembut, Anda dapat mengguncang dunia." ~Mahatma Gandhi

#29. "Jangan pernah memudarkan sinar anda untuk orang lain." ~Tyra Bank

#30. "Tidak ada yang bisa membuat Anda merasa rendah diri tanpa persetujuan Anda." ~Eleanor Roosevelt

#31. "Jangan menundukkan kepala Anda. Selalu tegaklah tinggi-tinggi. Lihatlah dunia langsung di wajah." ~Hellen Keller

#32. "Janganlah saya bermimpi jatuh ke dalam kesalahan besar, dihukum ketika saya berbuat salah." ~Ralph Waldo Emerson

#33. "Hidup tidak mudah bagi kita. Tapi apa itu? Kita harus punya ketekunan dan berdiri di atas semua keyakinan dalam diri kita sendiri. Kita harus percaya bahwa kita dikaruniai sesuatu untuk mencapai tujuan." ~Madame Curie

#34. "Jangan pedulikan apa yang para kritikus katakan. Sebuah patung tidak pernah didirikan untuk menghormati kritikan." ~Jean Sibelaus

#35. "Hidup menandai harga kita semua, jadi sebaiknya kita mulai menaruh harga yang tinggi untuk diri kita sendiri." ~Mignon McLaughlin

#36. "Saya telah belajar dari pengalaman bahwa sebagian besar kebahagiaan atau penderitaan tergantung pada ketetapan kita dan bukan pada keadaan kita." ~Martha Washington

#37. "Saya tidak percaya Anda harus lebih baik dari orang lain. Saya percaya Anda harus lebih baik daripada yang pernah Anda pikir Anda bisa." ~Ken Venturi

#38. "Saya memiliki iman yang besar di kebodohan - teman-teman saya menyebutnya kepercayaan diri." ~Edgar Allan Pole         

#39. "Aku tidak menganggap diriku sebagai seorang gadis kumuh miskin berkekurangan. Aku menganggap diriku sebagai seseorang yang sejak usia dini tahu saya bertanggung jawab untuk diriku sendiri, dan saya harus membuat baik." ~Oprah Winfrey

#40. "Percaya diri tidak sama dengan ego. Ego adalah Anda berpikir memiliki semua jawaban. Percaya diri adalah mengetahui Anda tidak memiliki jawaban, tetapi menjadi cukup yakin bahwa Anda akan dapat menemukannya." ~Maggie Stiefvater

#41. "Kepercayaan diri adalah rahasia pertama dari kesuksesan." ~Ralph Waldo Emerson

#42. "Moment ketika anda ragu bahwa anda bisa sukses, di sanalah anda menghentikan kemampuan anda untuk bisa melakukannya selamanya." ~J.M. Barrie

#43. "Ketika seseorang berkata "tidak" kepada saya. Itu bukanlah berarti saya tidak bisa melakukannya. Itu hanya berarti saya tidak bisa melakukannya dengan mereka." ~Karen E. Quinones Miller 

#44. "Percaya bahwa anda bisa. Maka anda sudah setengah jalan di sana." ~Theodore Roosevelt

#45. "Begitu anda percaya kepada diri sendiri, anda akan tahu bagaimana untuk hidup." ~Johann Wolfgang Van Goethe

#46. "Musuh terburuk kreativitas adalah keraguan diri." ~Sylvia Plath

#50. "Jika menjadi egomaniac berarti saya percaya kepada apa yang saya lakukan dan seni musik saya, maka kau bisa menyebutku demikian. Aku percaya dengan diriku sendiri, dan aku akan mengatakannya." ~John Lennon


Demikianlah segelintir kata-kata bijak, inspiring quotes tentang kepercayaan diri. Semoga bisa membantu teman-teman dalam meningkatkan kepercayaan diri masing-masing. Selamat kamis sore... Salam sukses

Apa dan Bagaimana Melakukan Pengembangan Diri Yang Efektif?

By // 1 comment:
Sejak 3000 tahun silam, di India, orang sudah mengenal praktek-praktek semisal yoga, meditasi dan tekhnik pernafasan tertentu. Sementara Di China, orang-orang sudah menciptakan wushu, thai chi, bahkan akupuntur.

Di Jepang, orang-orangnya sudah mengenal dan menghidupi apa yang disebut dengan istilah “Kaizen.” Yang artinya kurang lebih adalah penyempurnaan secara kontinyu. Perbaikian berkelanjutan. Oleh Masaaki Imai, seorang pakar produktivitas, kemudian menulis dalam bukunya, “Kaizen, The Key to Japan’s Competitive Success” bahwa inilah rahasia kesuksesan orang-orang jepang.

Bahkan di kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno, yang merupakan pusatnya ilmu filsafat, telah ditemukan praktek-praktek epimelia (praktek pengembangan diri) bahkan sebelum aristoteles dan kawan-kawannya lahir. Demikian papar Michel Foucault dalam Care of Self.

Apa dan Bagaimana Melakukan Pengembangan Diri Yang Efektif?
Pengembangan Diri
Menurut sejarah berbagai bangsa-bangsa, dari dulu orang sudah banyak berfokus untuk senantiasa mengembangkan dan meningkatkan kualitas dirinya. Jadi, pengembangan diri bukanlah ilmu baru melainkan sudah menjadi budaya manusia sedari lama. 

Pengertian Pengembangan Diri

Pengembangan Diri adalah segala aktifitas/kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan nilai, kepribadian, dan kompetensi seorang individu. Tujuannya utamanya setidaknya ada dua, yakni untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih baik atau untuk mencapai suatu aspirasi atau cita-cita tertentu.

Sederhananya pengembangan diri berarti menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana memang yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad 14 abad silam. Bahwa orang yang hari ini sama atau lebih buruk dari hari sebelumnya adalah orang yang rugi dan celaka. Satu-satunya orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa memperbaiki dan meningkatkan diri menjadi lebih baik setiap harinya.

Menurut Wikipedia, pengembangan diri bisa mencakup hal-hal berikut:
  • Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan diri
  • Mengasah keterampilan atau mempelajari keterampilan baru
  • Membangun atau memperbaharui identitas diri (personal branding)
  • Mengembangkan potensi atau bakat
  • Meningkatkan kesejahteraan hidup
  • Membangun kinerja SDM
  • Meningkatkan gaya atau kualitas hidup
  • Meningkatkan kesehatan
  • Memenuhi aspirasi atau cita-cita
  • Membangun sikap positif
  • Meningkatkan kemampuan sosial, dan lainnya.

Aspek dan Contoh Praktek Pengembangan Diri

Yoga: Praktek pengembangan diri lawas dari India
Yoga: Praktek Pengembangan Diri Lawas dari India | img from: yogameditationhome.com
Pengembangan diri mencakup semua aspek kehidupan kita. Termasuk fisik, emosional, financial, sosial, spiritual dan waktu. Semua aspek itu memiliki praktek professional maupun konvensional untuk meningkatkannya. Artinya kita bisa meningkatkan suatu bidang kehidupan kita dengan program-program pengembangan diri yang ada. Berikut contoh-contohnya;

#1. Aspek Fisik: Seperti olahraga, fitness, wight loss (program diet), beauty enhancement, martial art, dll.

#2. Aspek Mental/Emosional: Seperti meditasi, yoga, Emotional Quotient (EQ), seminar motivasi, NLP, Hypnosis, Logoterapi, dan lain sebagainya.

#3. Aspek Spiritual: termasuk praktek-praktek peribadatan agama seperti dzikir, haji, Spiritual Quotient (SQ), prana, rei ki dan lain-lain.

#4. Aspek Financial: Financial Planning, Cashflow Quadrant, Investasi, Menabung dan lain-lain.

#5. Aspek Sosial: Public relation, Public speaking, leadership, interpersonal skill contohnya buku-buku semisal How To Win Friends And Influence People, Deal with people, dll.

(Dalam bukunya, Awaken The Giant Within, Anthony Robbins memasukkan waktu sebagai satu bidang yang perlu dikuasai dalam kehidupan. Yakni time manajemen.)

Jadi kita bisa pilih, bidang mana yang ingin kita tingkatkan dalam kehidupan kita. Kemudian dengan bantuan instruktur atau mentor professional, kita bisa melakukannya dengan lebih baik dan efektif. Misalnya kita ingin meningkatkan bidang spiritual, kita bisa belajar dengan tokoh agama semisal uztads, pendeta atau biksu. Begitupun dengan bidang emosional misalnya, kita bisa join pelatihan-pelatihan semisal NLP, hypnosis dan lain sebagainya. Atau bisa juga dengan membaca buku/blog yang berkualitas. Semisal Blog Pengembangan Diri ini. :)

Psikologi Pengembangan Diri

Dalam teori motivasi manusia oleh Abraham Maslow yang terkenal, pengembangan diri memang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Maslow mengungkapkan bahwa setiap individu punya kebutuhan dasar untuk meihat diri menjadi lebih kompeten dan berdikari.

Dalam hal ini Maslow menggunakan istilah aktualisasi diri. Ia mendefinisikan aktualisasi diri sebagai hasrat untuk menjadi sosok seseorang yang memang diinginkan. Dan kebutuhan ini bertengger di puncak piramida kebutuhan manusia.
Teori kebutuhan manusia - Abraham Maslow
Sementara itu, ilmu psikologi menjadi terkait dengan pengembangan diri bahkan sejak awal kemunculannya. Banyak tokoh-tokoh psikolog awal yang sudah mengaitkan ilmu psikologi dengan pengembangan diri. Semisal Alfred Adler, Carl Jung, dan lainnya.

Sebab memang ilmu psikologi sejatinya sejak awal mengemban 3 misi utama. Yakni;
  1. Mentall illness (sakit jiwa)
  2. Nurturing talent (pengembangan bakat)
  3. Productivity (meningkatkan produktivitas manusia)
Ketika perang dunia terjadi, banyak orang menjadi sakit jiwa. Sehingga pada masa itu ilmu psikologi hanya berfokus pada mengobati sakit jiwa itu (mental illness). Lama kelamaan psikolog menjadi terjebak pada pola pikir bahwa jiwa manusia itu pada dasarnya memang sakit, dan psikologi hadir untuk menyembuhkannya.

Baru belakangan pada tahun 1999, sekelompok psikolog muda muncul untuk mengembalikan bidang psikologi pada misi keseluruhan. Mereka menamakan diri “aliran psikologi positif.” Mereka percaya bahwa pada dasarnya manusia itu sudah punya potensi dan modal dalam dirinya untuk meraih kesuksesan. Ilmu psikologi hanya memperkuat potensi tersebut.

Tokoh yang terkenal adalah Dr. Martin Seligmen yang menulis buku Learned Optimism; How to change your mind and your life, anda bisa baca penjelasannya oleh Mas Yodhia Antariksa di blog strategi manajemen di sini.

Di mana fokus Blog Pengembangan Diri.Com sebagai acuan pengembangan diri Anak Muda Indonesia?

Nah sekarang itulah pertanyaannya. Di mana fokus blog ini sebagai panduan mengembangkan diri bagi anak muda?

Misi blog ini sebenarnya sederhana. Untuk membantu anak muda untuk mencapai sukses sesuai dengan jati dirinya masing-masing. Jadi alih-alih mendikte apa yang harus dilakukan untuk menjadi sukses, blog ini akan membantu anda untuk:
  • Menemukan jati diri anda yang senarnya
  • Meningkatkan motivasi dan dorongan untuk sukses
  • Menunjukkan kiat dan strategi untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas
  • Membangun citra diri yang positif (Personal branding)
  • Mengasah gergaji (mempelajari skill baru/mempertajam skill yang sudah ada)
  • Membangun sikap dan karakter positif dalam diri
Pelajari lebih lanjut di halaman tentang blog ini.

Bagaimana melakukan pengembangan diri yang efektif

Sekarang kita masuk pada poin intinya, bagaimana melakukan pengembangan diri yang efektif?

Mungkin anda berkenan untuk membaca dulu artikel sebelumnya --> 7 Langkah Jitu Untuk Melakukan Pengembangan Diri.

Yang langkah-langkahnya kurang lebih:
  1. Menemukan jati diri
  2. Menciptakan Diri Yang diinginkan
  3. Mengubah Mentalitas
  4. Mengasah Gergaji
  5. Mempelajari Skill Penunjang
  6. Memperluas pandangan
  7. Evaluasi
Itulah 7 langkah melakukan pengembangan diri. Kini agar semakin efektif, kita perlu melakukan yang namanya rencana pengembangan diri (personal development plan/PDP).

Mengapa perlu rencana?

Karena dengan perencanaan yang matang, langkah-langkah itu menjadi terarah dan punya tujuan. Dengan PDP, kita jadi punya peta. Mana yang harus dilakukan. Dan mana yang perlu didahulukan.

Pada bagian ini saya sudah sediakan sebuah format/template Personal Development Plan yang bisa anda download gratis di sini.

Memperbaiki Kekurangan Vs. Meningkatkan Kekuatan

Kekurangan Vs. Kekuatan | Img from: businesscollective.com
Kekurangan Vs. Kekuatan | Img from: businesscollective.com
Satu pertanyaan penting dalam melakukan pengembangan diri adalah ini: Mana yang harus difokuskan, memperbaiki kekurangan atau meningkatkan kelebihan yang sudah ada?

Hal ini sudah saya kupas secara tuntas pada tulisan terdahulu --> Pengembangan Diri; Memperbaiki Kekurangan Vs. Mengembangan Kekuatan

Yang intinya, menurut banyak pakar prilaku (behavior expert) adalah jauh lebih efektif untuk kita meningkatkan potensi yang memang sudah ada dalam diri kita. Pendekatan problem-based atau weakness-based membuat pikiran kita justru terjebak dalam mentalitas “bermasalah”. Bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Dan ini membuat kita lebih lihai melihat masalah. Untuk sukses, kita perlu membangun mentalitas berkelimpahan. Dan itu semua dimulai dari pendekatan strength-based. Kita tinggal mengembangankan potensi kekuatan yang memang sudah kita miliki.

Mengatasi Kendala dalam Melakukan Pengembangan Diri

Kendala utama dalam melakukan pengembangan diri tak lain datang dari diri sendiri. Yakni kemalasan atau tidak adanya komitmen yang teguh untuk terus menjalani prosesnya. Perlu dicatat bahwa pengembangan diri bukan tindakan investatif, yakni melakukannya sekali hantam diawal, kemudian tinggal leha-leha menikmati hasilnya belakangan. Bukan seperti itu. Pengembangan diri adalah tindakan kontinyu. Berkelanjutan. Persis seperti prinsip Kaizen orang jepang di atas. Karena itu wajar jika butuh komitmen teguh untuk menjalani prosesnya. Yang paling utama adalah niat dan kemauan yang membaja.

Beberapa tips berikut layak direkahkan untuk mengatasi hambatan pengembangan diri:

Mengatasi Kendalah Pengembangan Diri
Kendala pengembangan diri | img from: inspirasi.org

 #1. Gunakan rencana pengembangan diri/PDP --> download templatenya di sini

#2. Menggunakan bantuan mentor. Dengan mentor kita jadi punya pembimbing. Mentor adalah orang yang paham dan sudah menjalani semua proses yang akan kita jalani. Karena itu ia akan membimbing dan mengarahkan kita.

#3. Sementara hambatan-hambatan yang sifatnya datang dari luar, semisal hambatan budaya dan lingkungan, bisa kita atasi dengan memilih dan membatasi pergaulan kita hanya pada lingkungan positif yang mendukung. Perihal ini pernah saya ungkap sedikit di tulisan ini -> 7 Langkah membangun kepribadian positif.

#4. Membaca, menonton dan menginput otak kita dengan bahan-bahan informasi yang sehat dan memberdayakan.

Baca juga: 6 Lankah Untuk Mengoptimalkan Fungsi Otak

Itulah beberapa tips untuk mengatasi hambatan melakukan pengembangan diri. When there is a will, there is a way. Di mana ada kemauan, di sana ada jalan. Pengembangan diri bukanlah hal yang sesulit dan se-njelimet yang kita bayangkan. Toh, bagaimana pun kita punya pilihan untuk menjalani hidup seperti apa. Apakah sebagai looser, atau ingin bertindak selaku winner. Pilihan ada di tangan kita.

Bagaimana pendapat teman-teman?

***Untuk mendapatkan tips update seputar pengembangan diri, silahkan masukkan email anda di kolom di bawah artikel ini.

Bagaimana Kata-Kata Mempengaruhi Keseluruhan Hidup Kita?

By // 3 comments:
Setiap hari kita berkomunikasi dengan orang lain dengan berbagai macam bahasa dan kata-kata. Berbagai macam kata-kata dan bahasa itu mengalir deras begitu saja dari mulut kita. Bahkan menurut sebuah study wanita mengeluarkan 13.000 hingga 20.000 kata-kata setiap harinya. Sementara pria mengeluarkan kata-kata sekitar 6.000 sampai 10.000 dalam sehari.

Bisa dibilang, kata-kata sudah jadi bagian hidup kita. Bahkan sebuah study memang telah mengungkapkan bahwa kita bisa mengetahui kejiwaan seseorang hanya dengan memperhatikan pilihan kata-katanya.

Namun ternyata bukan cuma itu. Artikel kali ini coba menguak, apa dan sampai di mana saja pengaruh kata-kata dalam membentuk hidup kita secara keseluruhan.

Langsung saja berikut ulasannya...


The Power of Words
imgfrom: basicpulse.blogpsot.com

Bagaimana Kata-Kata Mempengaruhi Molekul Tubuh Kita

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, seorang ilmuwan dan peneliti dari Hado Institute Jepang, menunjukkan fakta yang benar-benar mencengangkan. Yakni: bagaimana kata-kata sangat berpengaruh terhadap kondisi seseorang atau sesuatu benda.

Dalam penelitian tersebut, Dr. Emoto menggunakan Nasi sebagai media penelitian. Nasi yang sama dibagi ke dalam 3 wadah yang berbeda. Kemudian pada nasi pertama, diberi tulisan positif. Seperti, “Kamu baik, I love You, terima kasih," dan lain sebagainya. Nasi kedua diberi tulisan yang negatif. Semisal, “Kamu busuk, jahat, aku benci kamu.” Sementara nasi ketiga dibiarkan saja tanpa tulisan apa-apa.

Setiap hari, nasi-nasi itu dibacakan kata-kata yang tertulis di masing-masing wadahnya. Apa yang terjadi kemudian sangat mengejutkan…

Pada hari ke 27, nasi pertama―yang diberi tulisan positif―menjadi tidak basi. Ia hanya berjamur, tapi jamurnya bukan yang bau, melainkan jamur ragi yang wangi. Nasi kedua, secara mengejutkan menjadi basi, menghitam dan busuk lebih cepat. Sementara nasi ketiga, nampak berkerak kehitaman alami.

Akhirnya Dr. Emoto mengambil kesimpulan bahwa, memang kata-kata memiliki dampak kekuatan yang mempengaruhi kondisi seseorang dan sesuatu.

Hal yang sama juga terjadi pada air. Dalam bukunya The True Power of Water, ia menunjukkan bahwa air yang selalu dibacakan kalimat-kalimat positif membentuk Kristal persegi enam yang sangat indah. Sementara jika kata-kata yang diucapkan adalah negatif, air tersebut kristalnya menjadi rusak dan tak beraturan. (Sementara menurut Dr. Emoto sendiri, Kristal air terbaik adalah air zam-zam dari Mekah, di mana bentuknya sempurna menyerupai berlian.)

Sekarang bagaimana dengan Manusia?

Bukankah 90% tubuh kita adalah air? Jadi kita bisa tebak sendiri bagaimana pengaruh kata-kata positif terhadap tubuh kita.

Bagaimana Kata-Kata Membentuk Kepribadian Kita

Dalam ilmu Antropologi, ada satu cabang ilmu yang disebut “labelling theory” atau “teori menandai.” Teori ini mengatakan bahwa identitas dan kepribadian seseorang ternyata ditentukan oleh kata apa yang dominan dilabelkan kepadanya. Dengan kata lain, jika seseorang sering dipanggil “si jahat” atau “si pemalu” pada akhirnya benar-benar akan menjadi seperti itu. Jadi hati-hatilah bagaimana anda memanggil anak-anak anda. Begitupun halnya jika seseorang sering diberitahukan hal-hal positif, pada akhirnya ia akan menjadi benar-benar positif dalam hidupnya.

(Kebetulan Labelling Theory ini juga saya bahas pada buku “The Power of Pretending”).

Namun kebanyakan dari kita tidak paham akan hal tersebut. Kita seenaknya saja mengatakan kata-kata negatif kepada anak-anak kita.

Contoh kita menghardik anak-anak: “Kamu kok penakut?” Harapan kita dengan mengatakan begitu, anak-anak akan sadar, dan akhirnya menjadi lebih berani. Jangan harap! Justru ia akan semakin percaya bahwa dirinya adalah penakut. Sehingga ia menjadi benar-benar penakut. Apalagi jika yang mengatakannya adalah orang yang dianggap role model. Seperti orang tua atau guru.

Sejatinya anak-anak itu adalah manusia-manusia paling pemberani. Mereka tidak takut apa-apa, sebab tidak ada konsep takut dalam otaknya. Hanya saja kitalah orang tua yang kerap kali menjejalkan konsep takut itu kepadanya. Misalnya kita katakan, “Kalau kamu tidak tidur siang, nanti digigit hantu loh!” akhirnya, si anak menjadi ketakutan beneran. Sayangnya, hal semacam ini dibawa sampai dewasa. Ketakutan-ketakutan itu mengendap dan mengakar di dalam diri kita selamanya.

Baca juga: 

Begitulah pentingnya kata-kata membentuk kepribadian kita. Jadi penting untuk memilih kata-kata yang benar-benar positif yang bisa memberdayakan kehidupan.

Masalahnya setiap hari, lebih kerak kita mengucilkan bahkan menghina diri sendiri. Ketika berdiri di depan cermin, berbagai sumpah serapa lebih gampang mengalir keluar mulut kita daripada pujian-pujian positif.

Bagaimana Kata-kata Membentuk Reputasi Kita

Pada tulisan sebelumnya, tentang bagaimana membangun personal branding, kita telah menguak fakta bahwa, kita sukses bukan sekedar karena kualitas kompetensi kita semata, melainkan juga tentang bagaimana orang-orang mengenali diri kita.

Sebab percuma kita punya kualitas setinggi Empire State Building di Amerika, jika tidak ada orang yang mengetahuinya. Siapa juga yang akan membayar kita? Atau kalaupun kenal, tapi orang-orang mengenal kita keliru, sama juga!

Kita sukses bukan karena siapa yang kita kenal, melainkan siapa yang mengenal kita.” Ungkap Mario Teguh.

Nah, dalam kasus ini penting untuk memperkenalkan diri kita dengan sebaik mungkin. Dan semua itu bergantung pada kata apa yang kita gunakan untuk memperkenalkan diri kita.

Dengan kata yang tepat, orang akan lebih mudah memahami siapa kita, dan bagaimana kualitas pelayanan kita. Setelah itu, akan kembali lagi pada “labeling theory” tadi. Bahwa orang akan melabelkan kita dengan kata yang tepat, maka semakin mudahlah kesuksesan kita rengkuh.

Bagaimana Kata-Kata Membentuk Kondisi Lingkungan Kita?

Ucapan adalah doa.” Begitu orang-orang mengatakan.

Hal ini sangat sejalan dengan hukum Law of Attraction (LoA) yang belakangang menjadi begitu digandrungi. Sama-sama sudah kita pahami, bahwa menurut hukum ini, apapun yang kita pikirkan, itulah yang akan kita kirim ke semesta, dan untuk selanjutnya, oleh semesta akan dikirim balik ke kehidupan kita dalam wujud nyata. “Though become thing!” Pikiran menjadi benda nyata. Begitu para pakar mengistilahkannya.

Jadi dari sini bisa kita simpulkan, bahwa apapun yang kita pikirkan akan membentuk kehidupan kita. Kondisi kita hari ini adalah hasil dari apa yang kita pikirkan kemarin. Dan apa yang akan terjadi besok, ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini.

Kita benar-benar mendapatkan apa yang kita pikirkan. “Melalui pikiranlah, kita membentuk dunia kita.” Begitu nasehat Sang Buddha.

Sementara di dalam kitab suci sendiri, Tuhan pernah berfirman, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.

Sekarang bagaimana pikiran kita dibentuk? Menurut Toni Robbins, Motivator No. 1 Se-dunia, kata-kata yang kita gunakan sehari-hari menghasilkan dampak tersendiri pada pikiran kita. Karena itu, dalam bukunya, “Awaken The Giant Within,” ia mengajarkan untuk mengganti perbendaharaan kita. Misalnya, ketika anda lebih cenderung menggunakan kata “saya benci segalanya,” akan terasa lebih berbeda dampaknya ketika anda mengatakan, “saya lebih suka yang lainnya.” Atau misalnya kata “kegagahan” jauh lebih powerful kesannya dari pada “berusaha.” Dari pada mengatakan, “saya baik-baik saja,” akan terasa pengaruhnya jika kita mengatakan, “Saya luar biasa dahsyat!

Begitulah sebuah kata masing-masing memiliki kesan yang menciptakan gambaran dari pikiran kita. Dan dari sanalah kehidupan kita dibentuk. 

Pada akhirnya, demikianlah bagaimana kehidupan kita dibentuk dari kata-kata. Hal yang kerap kali kita pandang remeh dan sepele, ternyata adalah yang paling berdampak membentuk garis kehidupan kita sendiri. Kini pilihan ada di kita punya tangan, mau terjebak dalam perangkap kata-kata negatif, atau menyaringnya, dan memilih untuk gagah dengan kalimat-kalimat positif yang memberdayakan.

Akhirnya, marilah kita pegang teguh kata-kata bijak Kong Hu Chu berikut ini: "Tanpa mengenal kuasa kata-kata, mustahil kita mengenal kuasa manusia."

Jadi, Apa kata-kata anda?

Membangun Jiwa Optimisme; Perlukah Benar-benar Berhenti Menonton dan Membaca Berita?

By // No comments:

Membangun sikap optimisme adalah salah satu katalis kunci untuk membangun kesuksesan. Sebagaimana yang pernah kita kulik pada tulisan “Ubah Hidupmu, Dengan Mengubah Mentalitasmu.” Bahwa bagaimana mentalitas penuh optimisme membentuk karakter kita sebagai pribadi. Karena itu setiap insan dituntut untuk senantiasa menjaga api optimisme dalam dirinya masing-masing.

Permasalahannya, di dunia yang penuh hiruk pikuk dan hingar bingar ini, sangat mudah menemukan hal-hal yang membuat kita justru bermental pesimis. Berita-berita yang muncul di TV, Koran dan Internet kebanyakan bernada negatif dan menyebarkan virus pesimisme. Waduh…!

Saya pernah membaca sebuah buku yang menganjurkan agar kita berhenti total menonton berita di TV dan membaca koran. Alasannya sederhana, tentu agar tidak terjangkit virus pesimisme dari berita-berita negatif yang mereka suguhkan.
Membangun Jiwa Optimisme; Perlukah Benar-benar Berhenti Menonton dan Membaca Berita?
Nah, apakah memang perlu bagi kita untuk berhenti total menonton dan membaca berita?

Sembari duduk manis dan ngopi asyik di kamis sore ini, mari kita coba untuk mengulik teka-teki tersebut.

Dari yang setiap hari kita lihat, berita-berita yang muncul cenderung selalu bernada negatif. Bahkan berita yang negatif itu cenderung lebih disukai penonton televise. Semakin negatif dan provokatif beritanya semakin tinggi ratingnya.

Sayangnya, menurut para pakar, media-media berita khususnya yang berasal dari televisi, sangat berdampak mempengaruhi pola pikir dan karakteristik seseorang.

Dengan fakta yang sedemikian, maka tidak ada cara lain selain mengontrol diri kita sendiri dalam memilih dan memilah tayangan dan bacaan yang baik untuk kesehatan mindset kita. Membaca dan menonton hal-hal negatif akan membuat kita punya otak lama kelamaan juga akan menjadi negatif dan pesimis.

Apakah harus berhenti menonton dan membaca berita?

Ya kembali kepada diri dan pemikiran masing-masing. Saya sampai detik ini masih membaca berita, tapi saya dengan tegas memilih untuk tidak memilih berita-berita negatif. Masih banyak sumber-sumber bacaan dan tontonan yang bisa memberikan inspirasi positif bagi kita. Saya lagi tidak promosi, tapi saya masih senang dengan acara-acara dan media seperti Kick Andy, Good News Today, GNFI, dan masih banyak lagi.

Media punya power yang sangat luar biasa dalam membentuk karakteristik suatu bangsa. Karena itulah sebagai anak bangsa, adalah keniscayaan bagi kita untuk memilih menyimak berita-berita yang bisa menumbuhkan harapan baik. Akan kemajuan dan kesuksesan di hadapan mata kita.

Bukan berarti kita menjadi acuh dan tidak peduli dengan tindakan kriminalitas, korupsi dan sebagainya. Semua itu bisa kita lawan dengan terlebih dahulu tidak menjadi penikmat berita-berita negatif. Cara lain yang lebih positif yang bisa kita lakukan adalah memberikan kepercayaan dan dukungan penuh kepada pemerintah dan pihak berwenang untuk menyelesaikan hal ini.

Kita pun bisa bergabung atau membentuk komunitas-komunitas positif yang bekerja untuk mengkampanyekan kegiatan-kegiatan dansikap-sikap baik kepada masyarakat luas. Katakanlah misalnya gerakan Indonesia Mengajar, atau gerakan inspiratif lainnya.

Demikianlah sekelumit sajian hangat yang singkat ini saya suguhkan di sejuknya kamis sore ini. (sebab memang disempat-sempatkan ditengah kesibukan. Jadi maaf jika kurang panjang. Insya Allah postingan selanjutnya akan panjang).

Semoga ada manfaatnya. Jangan lupa komen untuk menyalurkan pendapat anda ya…

Benarkah Pikiran Kita Lebih Mudah Terjebak Dalam Kondisi Negatif Ketimbang Kondisi Positif?

By // No comments:
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari kerap kali kita harus menghadapi berbagai tantangan. Tak jarang tantangan-tantangan yang ada itu bisa membuat kita terjebak dalam sembilu negatifitas. Sampai-sampai bikin stress yang tak berkesudahan.

Dulu ketika pertama kali membaca buku-buku motivasi dan inspirasi tentang kesuksesan, dengan seketika semangat dan mentalitas positif seperti tertular ke dalam diri saya. Saya menjadi begitu positif menjalani kehidupan.

Tapi ketika kegagalan dan kebangkrutan datang memporak-porandakan kehidupan, saya pun menjadi sedih dan terjebak dalam perasaan negatif. Tidak berdaya dan frustasi. Namun dalam hati saya selalu membatin, "Ah... semua ini pasti akan berlalu."

Ternyata hingga masalah inipun berlalu, pikiran saya seperti terjebak dalam kondisi berpikir negatif. Entah mengapa sangat sulit bagi pikiran saya untuk bisa berpikir positif, semangat dan antusiasme seperti dulu lagi? Apa yang terjadi? Mengapa kondisi negatif sepertinya lebih mudah mempengaruhi pikiran saya daripada keadaan yang positif?
Benarkah Pikiran Kita Lebih Mudah Terjebak Dalam Kondisi Negatif Ketimbang Kondisi Positif?
img from: www.sciencedaily.com

Hal ini membuat saya bertanya-tanya benarkah demikian? Benarkah pikiran kita lebih mudah terjebak dalam kondisi negatif daripada kondisi positif?

Teka-teki itulah yang akan coba kita kupas habis pada tulisan renyah di sejuknya kamis sore ini. Semoga sedikit banyak kita bisa mengambil pelajaran pun inspirasi darinya.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Alison Ledgerwood untuk mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut. Alison Ledgerwood adalah seorang Psikolog Sosial. Yang berarti bahwa ia adalah seorang pengamat manusia. Latar belakang hingga akhirnya ia melakukan penelitian tersebut juga karena apa yang terjadi dalam karirnya sebagai seorang psikolog.

Sebagai seorang psikolog ia banyak membuat paper-paper hasil penelitian. Ketika paper-paper tulisannya diterima, ia menjadi bahagia. Dan setelah itu kembali normal menjelang makan siang. Suatu hari ketika papernya ditolak, ia menjadi begitu sedih. Tapi berbeda dengan perasaan positif ketika papernya di terima, perasaan negatif ini bertahan jauh lebih lama lagi. Perasan sedih itu menggelayuti bahkan sampai berhari-hari.

Bahkan ketika papernya yang lain diterima, perasaan positif itu tidak kunjung bergerak naik.



Maka diadakanlah penelitian untuk mencari tahu hal tersebut. Benarkah orang lebih mudah menjadi negatif daripada menjadi positif?

Bersama dengan rekan-rekannya, ia mengumpulkan beberapa responden untuk diuji. Responden dibagi ke dalam dua grup. Dan masing-masing grup dijelaskan sesuatu yang sama yakni tentang sebuah alat medis yang baru. Tapi dengan cara penyampaian yang berbeda.

Grup pertama dijelaskan bahwa alat medis ini memiliki tingkat kesuksesan terhadap kesembuhan pasien sebesar 70%. Sementara responden di grup kedua dijelaskan bahwa alat medis baru ini memiliki tingkat kegagalan sebesar 30%. Dan ternyata hasilnya orang-orang di grup pertama menyukai alat medis baru ini. Sementara orang-orang di grup kedua tidak menyukainya.
Tapi kemudian pernyataannya dibalik. Grup pertama dijelaskan lagi bahwa dengan 70% kesuksesan artinya ada tingkat kegagalan sebesar 30%. Maka dengan serta merta mereka menjadi tidak suka dengan alat baru ini.

Pada grup kedua juga dijelaskan hal yang sama. 30% kegagalan berarti ada tingkat kesuksesan sebesar 70%. Dan berbeda dengan responden di grup pertama, orang-orang di grup kedua tidak berubah sama sekali. Mereka tetap tidak menyukai peralatan medis baru ini.


Eksperimen kedua kemudian dilakukan kembali. Dengan pola yang persis sama dengan eksperimen pertama. Responden dibagi ke dalam 2 grup dan dijelaskan tentang suatu hal yang sama tapi dengan cara yang berbeda. Kini responden diberitahu mengenai kinerja pemerintah dalam menangani pengangguran.

Pada grup pertama orang diberitahu bahwa tahun ini pemerintah berhasil menyediakan lapangan pekerjaan dan berhasil menurunkan tingkat pengangguran sebesar 40%. Dan orang-orang menyukainya. Mereka berpikir pemerintah telah berhasil.

Di grup kedua, disampaikan bahwa tahun ini masih ada 60% pengangguran yang belum dipekerjakan. Dan orang-orang menjadi tidak suka dengan pemerintah.

Pernyataannya kemudian kembali dibalik. Di grup pertama disampaikan bahwa masih ada 60% pengangguran yang belum dipekerjakan. Dan orang-orang lagi-lagi menjadi tidak suka. Di grup kedua, juga disampaikan bahwa setidaknya pemerintah berhasil mengurangi tingkat pengangguran sebesar 40%. Tapi tidak ada bedanya dengan percobaan pertama, orang-orang pun tetap tidak suka dengan pemerintah.

Dari dua hasil eksperimen ini menunjukkan bahwa nampaknya memang benar pikiran kita lebih mudah terjebak dalam situasi negatif ketimbang situasi positif. Orang-orang lebih mudah memandang gelas sebagai setengah kosong, daripada memandangnya sebagai setengah penuh.

Maka dilakukanlah eksperimen ketiga. Kali ini, eksperimen itu ditujukan untuk mencari tahu seberapa mudah orang merubah pikiran dari negatif ke positif dan begitupun sebaliknya. Kembali responden dibagi ke dalam dua grup. Dan diberitahu mengenai tingkat kesuksesan sebuah operasi penyakit kanker.

Grup pertama diberi pertanyaan sederhana. Jika 600 orang penderita kanker, dan 100 orang dapat diselamatkan nyawanya melalui operasi, maka berapa orang yang akan meninggal? Artinya orang-orang ini akan berpikir dari kondisi positif ke kondisi negatif. Dari yang diselamatkan ke yang meninggal.

Di grup kedua pertanyaanya dibalik, jika dari 600 orang itu meninggal 100 orang. Maka berapa orang yang akan berhasil diselamatkan? Artinya disini, orang berpikir dari kondisi negatif ke positif. Dari orang yang meninggal kepada orang yang diselamatkan.

Jawaban kedua pertanyaan itu sama. Yakni 600 - 100 = 500. Tapi ternyata waktu yang dibutuhkan oleh kedua grup berbeda.



Orang-orang di grup pertama, yang berpikir dari kondisi positif ke kondisi negatif, butuh waktu sekitar 7 detik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sementara orang di grup kedua, yang bergerak dari kondisi negatif menjadi positif, butuh waktu sekitar 11 detik.

Ini menunjukkan bahwa begitu kita memikirkan sesuatu sebagai kondisi negatif, cara berpikir semacam itu akan merasuk di benak kita dalam waktu yang lama. Sampai kita berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya.” Kata Alison.

Sementara itu, berikut grafik pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kepercayaan konsumen dari tahun 2007 sampai tahun 2010.




Ketika pertumbuhan ekonomi terjun bebas ke bawah, kepercayaan konsumen pun menurun drastis. Tapi ketika kondisi ekonomi sudah kembali pulih, kepercayaan konsumen tidak kunjung memantul ke atas mengikuti grafiknya. Justru kepercayaan konsumen seperti terjebak di level yang rendah.

Semua ini sekali lagi bukti bahwa pikiran kita lebih mudah menangkap kondisi negatif ketimbang kondisi positif. Sangat mudah untuk beralih dari kondisi positif ke kondisi negatif. Tapi untuk bisa bangkit dari kondisi negatif ke kondisi positif, dibutuhkan tenaga dan usaha yang tidak sedikit. Kita harus bersaha lebih kuat agar bisa melihat sesuatu dengan cara yang positif.

Namun meski begitu, bukan mustahil untuk menjadi orang yang berpikir positif. Kita bisa melatih pikiran kita untuk terbiasa melihat gelas sebagai setengah penuh. Bukan setengah kosong.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk itu. Salah satunya yang paling efektif, menurut para pakar adalah dengan bersyukur. Sebuah penelitian lain menunjukkan bahwa hanya dengan menulis hal-hal positif yang terjadi dalam hidup kita setiap harinya, bisa secara dramatis mempengaruhi pola pikir kita menjadi pola pikir positif.

Baca juga:
Bersyukur adalah emosi manusia yang paling sehat.” Demikian kata motivator ternama Zig Ziglar. Orang-orang yang punya kebiasaan bersyukur dipagi hari, menurut hasil riset, cenderung lebih kuat dan tangguh dalam menjalani tantangan demi tantangan kehidupan.

Demikian tulisan renyah dan bergizi pada kamis sore ini. Mudah-mudahan bisa menyuntikkan wawasan sekaligus semangat baru ke dalam diri pembaca sekalian. Bahwa kita senantiasa menggodok kebiasaan bersyukur dan berpikir positif dalam hidup ini. Sehingga kita semua bisa hidup dengan lebih positif, sehat dan powerful.

Berpikir positif dalam hidup memang sulit. Tapi lebih sulit hidup tanpa berpikir positf. Jangan lupa masukkan email anda di kolom berlangganan di samping, agar memastikan anda tidak ketinggalan artikel bergizi selanjutnya